Zakat, Ibadah Kesalehan Sosial

Oleh Shafwan Bendadeh

Zakat menurut bahasa adalah berkembang, bertambah. Orang Arab mengatakan zakaa az-zar’u ketika az-zar’u (tanaman) itu berkembang dan bertambah. Zakat an-nafaqatu ketika nafaqah (biaya hudup) itu diberkahi. Kadang-kadang zakat diucapkan untuk makna suci. kesalehan-sosial-dengan-zakat“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu)”. (asy-Syam: 9). “Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman)”. (al-A’laa: 14).

Pecahan kata zakat juga diucapkan untuk makna pujian (memuji), Allah SWT berfirman, “… Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci…”. (an-Najm: 32). Kata ini juga diucapkan untuk makna kesalehan. Misalnya rajulun zakiyyun artinya bertambah kebaikannya. Rajulun min qaumin azkiya’ artinya laki-laki dari kaum yang saleh. Zakka al-Qadhi asy-Syuhuud artinya hakim menjelaskan kelebihan mereka dalam kebaikan.

Harta yang dikeluarkan dalam syara’ dinamakan zakat, karena zakat akan menambah barang yang dikeluarkan, menjauhkan harta tersebut dari bencana-bencana, Allah SWT berfirman, “…Dan berikanlah zakat…” (al-Baqarah: 43). Makna-makna kebahasaan ini terpresentasikan dalam firman Allah SWT, “Ambilah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka…”. (at-Taubah: 103). Zakat bisa menyucikan orang yang mengeluarkannya dari dosa, mengembangkan pahala dan harta orang tersebut.

Zakat menurut syara’ adalah hak yang wajib pada harta. Malikiyah memberikan definisi bahwa zakat mengeluarkan sebagian tertentu dari harta tertentu yang telah sampai nisab kepada orang yang berhak menerima, jika kepemilikan, haul (genap satu tahun) telah sempurna selain barang tambang, tanaman dan harta temuan.

Hanafiyah memberikan definisi bahwa zakat adalah pemberian hak kepemilikan atas sebagian harta tertentu kepada orang tertentu yang telah ditentukan oleh syariat, semata-mata karena Allah SWT. Kata ‘pemberian hak kepemilikan’ tidak termasuk di dalamnnya ‘sesuatu yang hukumnya boleh’. Oleh karena itu, jika seseorang memberi makanan anak yatim dengan niat zakat, maka tidak cukup dianggap sebagai zakat. Kecuali jika orang tersebut menyerahkan makanan kepada anak yatim itu, sebagaimana jika orang tersebut memberi pakaian pada anak yatim. Hal itu dengan syarat si anak yatim memahami dengan baik penerimaan barang.

Syafi’iyah memberikan definisi bahwa zakat adalah untuk barang yang dikeluarkan untuk harta atau badan (diri manusia untuk zakat fitrah) kepada pihak tertentu. Definisi zakat menurut Hanabilah adalah hak yang wajib pada harta tertentu kepada kelompok tertentu pada waktu tertentu.

Kelompok tertentu yang dimaksudkan adalah delapan kelompok yang disebut oleh firman Allah SWT, “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (at-Taubah: 60).

Waktu tertentu adalah genapnya satu tahun untuk binatang ternak, uang, barang dagangan; ketika sudah mengeras untuk biji-bijian; ketika sudah tampak bagus yang mana wajib zakat untuk buah; ketika telah terjadi kewajiban zakat di dalamnya untuk madu; ketika dikeluarkan hal yang harus dizakatkan untuk barang tambang; ketika terbenam matahari pada malam Idul Fitri untuk kewajiban zakat fitrah.

Dengan demikian, jelas bahwa zakat dalam definisi para fuqaha digunakan untuk perbuatan pemberian zakat itu sendiri. Artinya memberikan hak yang wajib pada harta. Zakat dalam urf fuqaha digunakan juga untuk pengertian bagian tertentu dari harta yang telah ditetapkan oleh Allah SWT sebagai hak orang-orang fakir. Zakat dinamakan shadaqah karena menunjukkan kejujuran hamba dalam beribadah dan taat kepada Allah SWT.

Hikmah Zakat

Kesenjangan antar manusia dalam rizki, anugerah dan perolehan pekerjaan adalah sesuatu yang terjadi datang kemudian tidak semenjak lahir. Allah SWT berfirman, “Dan Allah melebihkan sebagian kamu atas sebagian yang lain dalam hal rezeki…” (an-Nahl: 71). Artinya, bahwa Allah SWT memberikan kelebihan pada sebagian orang atas sebagian yang lain dalam rezeki. Allah mewajibkan orang kaya untuk memberikan pada orang fakir hak kewajiban yang sudah ditetapkan, tidak enggan memberikan tidak pula mengharap dibalas. “Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta.” (adz-Dzaariyaat: 19). Kefardhuan zakat adalah sarana paling utama untuk mengatasi kesenjangan ini, merealisasikan solidaritas atau jaminan sosial dalam Islam.

Hikmah zakat pertama, menjaga dan membentengi harta dari penglihatan orang, jangkauan tangan-tangan pendosa dan pelaku kejahatan. Rasulullah SAW bersabda, “Bentengilah harta kalian dengan zakat, obatilah orang-orang yang sakit dari kalian dengan shadaqah, siapkanlah doa untuk bala bencana”. (HR. ath-Thabrani).

Kedua, menolong orang-orang fakir dan orang-orang yang membutuhkan. Zakat bisa membimbing tangan mereka untuk memulai pekerjaan dan kegiatan jika mereka mampu dalam hal ini. Zakat juga bisa menolong mereka untuk menuju situasi kehidupan yang mulia jika mereka lemah. Zakat melindungi dari penyakit fakir, melindungi negara dari ketidakmampuan dan kelemahan. Kelompok masyarakat bertanggung jawab akan jaminan terhadap orang-orang fakir dan kebutuhan mereka.

Ketiga, menyucikan diri dari penyakit kikir dan bakhil, membiasakan orang mukmin untuk memberi dan dermawan, supaya tidak hanya memberi sebatas pada zakat. Namun berpartisipasi sebagai kewajiban sosial mendukung negara dalam bentuk pemberian ketika dibutuhkan, penyiapan tentara, membendung musuh, menyalurkan kepada orang-orang fakir pada batas yang cukup.

Mengangkat Derajat Fakir Miskin

Seorang Muslim tidak hanya dituntut menjalankan ibadah yang berdimensi ritual (mahdhah) saja. Lebih dari itu, seorang muslim harus menjalankan ibadah yang bersifat sosial (muamalah). Zakat adalah salah satu realisasi dari kedua ibadah tersebut. Dengan berzakat, setiap muslim telah ikut mengatasi struktur ekonomi dan politik di sebuah negara.

Zakat diharapkan mampu mengangkat derajat hidup fakir miskin dan membantunya keluar dari kesulitan hidup serta penderitaan, dan membantu pemecahan masalah yang dihadapi oleh para mustahik lainnya, menghilangkan sifat dari kikir pada diri dan harta, sehingga mempererat tali persaudaraan umat.

Zakat juga diharapkan mampu untuk pengembangan ekonomi masyarakat lemah, sebagai dimensi sosial, ekonomi, keadilan dan kesejahteraan. Tujuan utamanya adalah untuk menciptakan perbedaan ekonomi yang adil dan merata di kalangan masyarakat supaya orang-orang kaya tidak akan menjadi lebih kaya dan orang miskin menjadi semakin miskin. Mendistribusikan kekayaan kepada masyarakat supaya tidak ada umat Islam yang tinggal dalam kemiskinan dan penderitaan.

Memprioritaskan penanggulangan kemiskinan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin secara terpadu dan sistematis yang merupakan sebuah landasan dasar untuk membangun ekonomi pasar secara kuat. Jika pendapatan masyarakat miskin meningkat, berarti golongan ekonomi menengah ke atas dapat diuntungkan dengan ekonomi yang kuat. Di samping itu, dengan usaha peningkatan pendapatan masyarakat miskin secara terus menerus akan memberi manfaat terhadap kebutuhan ekonomi masyarakat sehingga ekonomi bangsa akan menjadi lebih kuat. Wallahu a’lam bissawab.

Shafwan Bendadeh, SHI., M.Sh, Kepala Sub Bidang Pendayagunaan Baitul Mal Aceh, Email: shafwan.bendadeh@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s