Uang Kertas, Tidak Perlu Dikeluarkan Zakat?

Oleh Shafwan Bendadeh

Uang kertas yang kita gunakan sekarang disebut fiat money, uang kertas (paper money) yang tidak dapat ditukar dengan zakat pakai uanglogam murni (unconvertible paper money). Uang tersebut merupakan kertas uang yang dikeluarkan oleh pemerintah, dan pemerintah menjadikan uang kertas tersebut sebagai uang utama. Namun, kertas uang tersebut sejatinya tidak bisa ditukarkan dengan emas dan perak, atau disebut uang kertas bank (bank note). Untuk kepentingan tersebut dikeluarkan undang-undang yang bisa melindungi bank yang mengeluarkannya sehingga dapat ‘memaksa’ terjadinya pertukaran dengan emas dan perak. Sekiranya pemerintah mencabut keputusannya dan menggunakan uang dari jenis lain, niscaya uang kertas tersebut tidak akan memiliki bobot sama sekali.

Lalu sebagian kalangan telah mempertanyakan, apakah uang kertas bisa diperlakukan sebagaimana emas dan perak, dengan mempertimbangkan bahwa uang tersebut telah diakui sebagai alat tukar? Ataukah sebaliknya, uang tersebut tidak bisa diperlakukan sama dengan emas dan perak, dengan memandang nilai intrinsiknya? Jawaban pertanyaan di atas akan menentukan, apakah ada zakat untuk uang kertas ataukah tidak.

Para fuqaha telah terjadi perbedaan pendapat di antara mereka, menjadi dua pendapat: Pertama, tidak ada kewajiban zakat pada uang yang dimiliki oleh seseorang kecuali jika diniatkan untuk modal usaha dagang. Jika diperuntukkan sebagai uang nafkah atau dipersiapkan untuk pernikahan, atau yang semisalnya maka tidak ada zakatnya. Kedua, ada kewajiban zakat pada setiap mata uang (uang kertas) yang dimiliki atau dikumpulkan oleh seseorang dari hasil keuntungan usaha dagang atau hasil sewa rumah atau hasil gaji atau yang semisalnya, dengan syarat uang tersebut telah mencapai nisab dan berputar selama satu tahun hijriyah. Walaupun uang ini dikumpulkan dengan niat untuk modal usaha atau untuk nafkah, pernikahan, atau tujuan lainnya.

Diantara dalil-dalil pendapat kedua ini adalah keumuman firman Allah SWT, “Hendaklah engkau (wahai Muhammad) mengambil zakat dari harta-harta mereka yang dengannya dapat membersihkan mereka dari dosa dan memperbaiki keadaan mereka serta berdo’alah untuk mereka.” (QS. At-Taubah: 103).

Demikian pula berdasarkan keumuman sabda Rasulullah SAW kepada Mu’az bin Jabal ketika diutus Rasulullah SAW ke negeri Yaman, “Ajarkan kepada mereka bahwasanya Allah SWT telah mewajibkan atas mereka zakat pada harta-harta yang mereka miliki dari orang-orang kaya dan dibagikan kepada fakir diantara mereka.” (HR. Bukhari II/544 no. 1425, IV/1580 no. 4090, dan Muslim I/50 no. 31, dari Ibnu Abbas).

Berdasarkan dalil tersebut, uang termasuk dalam keumuman harta benda yang diwajibkan zakat. Karena uang dengan berbagai jenisnya dan berlaku secara umum pada muamalah kaum muslimin, telah menggantikan posisi emas (dinar) dan perak (dirham) yang dipungut zakatnya pada masa Rasulullah SAW. Uang sebagai pengganti emas (dinar) dan perak (dirham) menjadi tolok ukur dalam menilai harga suatu barang sebagaimana halnya dinar dan dirham pada masa tersebut.

 

Syarat Zakat Uang Kertas

Setiap mata uang (uang kertas) yang berlaku di negara manapun, baik rupiah, riyal, dolar, yen, ringgit atau selainnya – baik disimpan di tabungan maupun tidak – wajib dikeluarkan zakatnya jika telah memenuhi dua syarat: Pertama, telah mencapai nisab, yaitu senilai nisab emas (20 dinar/85 gram emas murni), atau senilai nisab perak (200 dirham/595 gram perak murni). Kedua, harta senisab (atau lebih) itu telah berputar selama satu tahun hijriyah sejak dimiliki.

Jika dua syarat dipenuhi, wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5 %. Kewajiban zakat uang kertas itu dianalogikan dengan kewajiban zakat atas emas dan perak, karena ada kesamaan ‘illat (sebab hukum) antara uang kertas dengan emas atau perak, yaitu statusnya sebagai mata uang (an-naqdiyah) dan sebagai alat pembayaran (ats-tsamaniyah).

‘Illat ini adalah ‘illat yang disimpulkan dari berbagai hadits tentang emas dan perak, yang mengisyaratkan adanya sifat sebagai mata uang (an-naqdiyah) dan sebagai harga (ats-tsamaniyyah), yang menjadi landasan kewajiban zakat pada emas dan perak. Di antaranya hadits Nabi SAW, “Maka datangkanlah (bayarlah) zakat riqqah (perak yang dicetak sebagai mata uang), yaitu dari setiap 40 dirham (zakatnya) 1 dirham.” (HR. Abu Daud I/494 no. 1574, At-Tirmidzi III/16 no. 620, dan Ahmad I/92 no. 711, dari Ali bin Abi Thalib). ‘Illat yang disimpulkan dari kandungan ayat al-Quran dan hadits disebut ‘illat istimbath. ‘Illat dalam pengambilan hukum di atas, termasuk ‘illat istinbath. Penyebutan kata “riqqah” (perak yang dicetak sebagai mata uang) di dalam hadits di atas – dan bukan dengan kata fidhah (perak) – menunjukkan sifat perak sebagai mata uang (an-naqdiyah) dan sebagai alat pembayaran (ats-tsamaniyah).

Sifat ini tidak hanya ada pada perak atau emas, tapi ada juga ada pada uang kertas yang berlaku sekarang, meski ia tidak ditopang dengan emas atau perak. Maka uang kertas sekarang wajib dizakati, sebagaimana wajibnya zakat untuk emas dan perak. Karena itu, siapa saja yang mempunyai uang yang telah memenuhi dua syarat di atas, yaitu mencapai nisab dan telah berputar selama satu tahun hijriyah maka wajib mengeluarkan zakatnya sebesar 2,5 % (dua setengah persen) dari total uang yang dimiliki.

 

Cara Menghitung dan Mengeluarkan Zakat Uang

Setelah kita ketahui bahwa standar nisab zakat uang adalah nisab emas, yaitu 20 dinar/85 gram emas murni, selanjutnya kita akan mengetahui bagaimana cara menghitung dan mengeluarkan zakat uang: sebagai contoh permasalahan; bila sekarang (November 2015) harga emas murni Rp. 472.000,-/gram. Maka cara mengetahui nisab dan kadar zakat mata uang (uang kertas) adalah sebagai berikut: Nisab Mata Uang = 85 gram x Rp. 472.000,-/gram = Rp. 40.120.000,-

Ketika seseorang mempunyai uang tabungan sebesar Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah), berarti uang yang dimilikinya sudah melebihi nisab (Rp. 40.120.000,-). Jika uang yang telah mencapai nisab ini sudah disimpan selama satu tahun hijriyah, maka zakatnya yang wajib dikeluarkan adalah = 2,5 % x Rp 50 juta = Rp 1.250.000,- (Satu juta dua ratus lima puluh ribu rupiah).

Demikian penjelasan tentang panduan praktis zakat uang kertas serta tata cara menghitung dan mengeluarkannya. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi penulis dan pembacanya, amiin. Wallahu ‘alam bisshawab.

Sumber: Tabloid Iqra’ / Majalah Santunan Kemenag Aceh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s