Wakaf dan Pemberdayaan Ekonomi Ummat

Oleh Shafwan Bendadeh

Wakaf  sejatinya merupakan budaya murni umat Islam yang tidak dikenal sebelumnya dalam adat Arab jahiliah. Wakaf diperkenalkan Rasulullah SAW pada tahun 622 M di Madinah, ketika itu beliau mewakafkan Masjid Quba’ dan setelah enam bulan berikutnya Rasulullah SAW juga mewakafkan Masjid Nabawi atas dasar ketaqwaan kepada Allah SWT. Orang-orang jahiliah tidak mengenal akad wakaf yang wakaf_produktif_beda_wakaf_dan_infak-672x309merupakan bagian daripada akad-akad tabarru’ (perjanjian yang tidak mengharapakan imbalan), lalu Rasulullah SAW memperkenalkannya karena beberapa ciri istimewa yang tidak ada pada akad-akad sedekah lainnya. Dalam kajian fiqih, wakaf diakui sebagai lembaga baru yang diperkenalkan oleh Islam (Rasulullah).

Karena itu ketentuan dan peraturan tentang wakaf semuanya relatif baru, tidak ada yang merujuk atau dikaitkan ke masa jahiliah. Sepanjang sejarah Islam, wakaf telah memainkan peran yang sangat penting dalam mengembangkan kegiatan-kegiatan sosial, ekonomi dan kebudayaan masyarakat Islam.

Banyak hadis yang dipahami sebagai anjuran untuk berwakaf, dan menceritakan kelebihan dan keutamaan wakaf dibandingkan dengan sedekah (biasa), hibah atau ibadah kehartaan lainnya. Salah satu dalil utama adalah hadis mengenai `Umar bin Khaththab yang bertanya kepada Rasulullah, apa yang harus dia lakukan atas harta (tanah) ghanimah yang dia peroleh dalam Perang Khaibar, yang relatif luas dan subur.

Mendapat pertanyaan ini, Rasulullah bersabda yang maknanya lebih kurang, kekalkan hartanya, dan manfaatkan (sedekahkan) hasilnya. Mendapat penjelasan ini, `Umar mensedekahkan (mewakafkan) tanah tersebut, untuk orang fakir, kerabat, budak yang akan dimerdekakan, sabilillah, ibnu sabil, serta tamu yang datang/ menginap ditempat tersebut. Beliau juga menunjuk seseorang sebagai pengelolanya. Orang yang ditunjuk sebagai pengelolanya (nazhir) dia beri izin untuk memakan sebagian hasilnya (untuk diri dan keluarganya) sebagai upah serta biaya pengelolaannya. `Umar juga membuat syarat bahwa harta wakaf tersebut tidak boleh dijual, dihibahkan atau diwariskan.

 

Potensi Wakaf

Wakaf di Indonesia tersebar lebih kurang mencapai 428.535 lokasi dengan luas hampir 4 milyar m2. Dalam kontek ke-Aceh-an dan berdasarkan data Kementerian Agama, potensi wakaf di Aceh tersebar dipelosok gampong dalam Provinsi Aceh cukup besar lebih kurang berjumlah 21.862 lokasi dengan luas 183,14 juta meter persegi. Namun belum dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan umat, khususnya sosial dan pengembangan kesejahteraan ekonomi umat.

Sangat ironis harta wakaf yang ada tidak diberdayakan (nazhir) sebagaimana mestinya, harta wakaf masih sebatas menjadi tanah kuburan, lahan tidur umpama tidak bertuan hanya ilalang yang dibiarkan tumbuh subur. Disamping itu, banyak harta wakaf yang tidak mempunyai status yang jelas, sehingga tidak bisa digunakan dengan baik.

Penggunaan tanah wakaf di Aceh selama ini hanya untuk keperluan sosial dan tempat ibadah semata, belum dikembangkan secara produktif. Seyogianya, harta wakaf itu bisa diberdayakan untuk kegiatan produktif, sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat guna menambah penghasilan dan kesejahteraannya. Tidak dapat dipungkiri kalau harta wakaf tersebut dikelola (nazhir) dengan manajemen yang baik, sungguh kesenjangan hidup masyarakat yang berpenghasilan rendah, miskin dan melarat dapat dikurangi secara berjenjang, karena dalam harta wakaf tersebut terdapat sumber ekonomi potensial kerakyatan (umat) yang terus berkembang sampai akhir zaman. Wallaahu a’lam bishawab

Sumber: Tabloid Gema Baiturrahman, Edisi Jum’at, 26 September 2014 No. 1084 XXII, Hal. 4.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s