Zakat Produktif: Transformasi Mustahik Menjadi Muzakki

Oleh Shafwan Bendadeh

Zakat merupakan ajaran yang melandasi tumbuh berkembangnya sebuah kekuatan sosial ekonomi Islam, seperti empat investmentrukun Islam yang lain. Ajaran zakat menyimpan beberapa dimensi yang komplek meliputi nilai privat-publik, vertikal-horizontal, serta duniawi-ukhrawi. Nilai-nilai tersebut merupakan landasan pengembangan kehidupan kemasyarakatan yang komprehensif. Bila dimensi yang terkandung dalam ajaran zakat ini dapat diaktualisasikan, maka zakat akan menjadi sumber kekuatan yang sangat besar bagi pembangunan umat menuju kebangkitan kembali peradaban Islam.

Kelebihan ajaran zakat dibanding aspek-aspek lain dari rukun Islam yang lain adalah bahwa zakat memiliki dimensi sosial. Oleh karena itu, zakat dalam mata rantai peningkatan kesejahteraan umat Islam tak mungkin diabaikan. Namun dalam perjalanan sejarah masyarkat Islam, ajaran zakat dengan segala dimensi yang dimiliki seringkali luput dari perhatian umat Islam. Zakat menjadi apa yang disebut ibadah mahdhah pribadi-pribadi kaum muslimin. Dari suatu ajaran yang kuat dan mendalam yang dikembangkan Rasul dan sahabat, zakat menjadi ajaran yang sempit bersama mundurnya umat Islam dan menurunnya kemauan untuk berijtihad.

Pada dasarnya tujuan zakat itu berdampak bagi muzakki, yaitu zakat mensucikan jiwa dari sifat kikir, mendidik berinfak dan memberi, berakhlak yang baik, merupakan manivestasi syukur atas nikmat Allah, mengobati hati dari cinta dunia, mengembangkan kekayaan batin, menarik rasa simpati, serta dapat mengembangkan harta. Sedangkan bagi penerima zakat ‘mustahik’, antara lain untuk membebaskan penerima dari kebutuhan hidup dan dapat menghilangkan sifat benci dan dengki yang sering menyelimuti hati mereka jika melihat orang kaya yang bakhil ‘kikir’.

Adapun tujuan zakat dilihat dari kepentingan sosial, bahwa sumber dana zakat tersebut dapat bernilai ekonomi, merealisasikan fungsi harta sebagai alat perjuangan menegakkan agama Allah, dan mewujudkan keadilan sosial ekonomi masyarakat pada umumnya.

Lebih luas lagi Wahbah Az-Zuhaily menguraikan tujuan zakat bagi kepentingan masyarakat; Pertama, menggalang jiwa dan saling menunjang serta solidaritas sosial dikalangan umat Islam. Kedua, merapatkan dan mendekatkan jarak kesenjangan ekonomi dalam masyarakat. Ketiga, menanggulangi pembiayaan yang mungkin timbul akibat berbagai macam bencana seperti bencana alam dan sebagainya. Keempat, menutup biaya-biaya yang timbul akibat terjadinya konflik, persengketaan dan berbagai bentuk kekacauan dalam masyarakat. Kelima, menyediakan suatu dana taktis dan khusus untuk penanggulangan biaya hidup bagi para gelandangan, para penganggur, dan para tuna-sosial lainnya, termasuk dana untuk membantu orang-orang yang hendak menikah tetapi tidak memiliki dana untuk itu.

Al-Tayyar menambahkan, bahwa tujuan zakat selain sebagai ibadah, ia juga bertujuan untuk menghapuskan dosa dan kesalahan, menolak bala bencana, serta mendorong meningkatkan semangat dan produktivitas kerja, sehingga pada gilirannya mampu menghilangkan sikap dan status seseorang dari kemiskinan.

Sebagaimana shalat yang menjadi tiang agama, maka zakat menjadi penyangga masyarakat yang apabila tidak ditunaikan dapat meruntuhkan sendi-sendi sosial ekonomi dalam masyarakat, karena secara tidak langsung tidak menunaikan zakat dari orang-orang kaya itu sama seperti rekayasa kemiskinan secara terstruktur. Zakat mempunyai dimensi sosial dan sakral, bila tidak direalisasikan akan menimbulkan dampak negatif berupa kerawanan sosial, seperti banyaknya pengangguran dan masalah-masalah sosial.

Pendayagunaan Zakat

Penyaluran zakat dalam bentuk pemberian modal usaha (asset bisnis) kepada mustahik baik secara langsung maupun tidak langsung, yang pengelolaannya bisa melibatkan maupun tidak melibatkan mustahik sasaran. Penyaluran dana zakat ini diarahkan pada usaha ekonomi produktif atau ‘zakat produktif’ yang diharapkan hasilnya dapat mengangkat taraf kesejahteraan mustahik. Dana zakat produktif ini didayagukan untuk usaha produktif, apabila kebutuhan mustahik yang delapan asnaf sudah terpenuhi dan terdapat kelebihan. Penyaluran zakat dalam bentuk ini adalah bersifat bantuan pemberdayaan dalam bentuk program atau kegiatan yang berkesinambungan.

Dari sudut bahasa, perkataan produktif berasal dari bahasa Inggris “productive” yang berarti berdaya keluaran; memberi banyak hasil; banyak menghasilkan barang-barang; yang mempunyai hasil baik, “productivity” daya produksi”. Umumnya produktif (productive) “bersifat atau berupaya (mampu) menghasilkan (dalam jumlah besar); mendatangkan atau memberi hasil; banyak menghasilkan karya atau barang”. Produktif juga berarti “yang menghasilkan sesuatu memberi kepuasan kehendak; banyak menghasilkan; memberikan banyak hasil”.

Pengertian produktif disini lebih berkonotasi kepada perkataan sifat. Perkataan sifat akan jelas maknanya apabila digabung dengan perkataan yang disifatkannya. Perkataan yang disifatkannya adalah perkataan zakat, ‘zakat produktif’, yaitu zakat yang produktif, zakat di mana yang dalam penyalurannya bersifat produktif. Lebih tegasnya zakat produktif dalam tulisan ini adalah penggunaan zakat secara produktif, lebih kepada bagaimana cara atau metode menyampaikan dana zakat kepada sasaran dalam pengertian yang lebih luas, sesuai dengan tujuan syara’. Cara pemberian yang tepat dan berguna, efektif manfaatnya dengan sistem yang ada dan produktif. [Bersambung]

Sumber: Tabloid Mimbar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s