Berzakat Membantu Yang Lemah

Oleh Shafwan Bendadeh*

Penggunaan lafal zakat dengan segala bentuknya di dalam al-Quran terulang sebanyak 30 kali, dan 27 kali di antaranya beririgan dengan kewajiban mendirikan shalat. Sebagaimana dimaklumkan zakat merupakan suatu kewajiban atas setiap muslim yang merdeka, yang memiliki satu nisab dari salah satu jenis harta yang wajib dikeluarkan zakatnya sebagaimana yang firman Allah SWT yang bermakna:

Ambillah (sebahagian) dari harta mereka menjadi sedekah (zakat), supaya dengannya engkau membersihkan mereka (dari dosa) dan mensucikan mereka (dari akhlak yang tercela)”.

Surah al-Tawbah (9): 103.


Dan sudah sangat dikenal pula bahwa zakat tersebut harus disalurkan kepada asnaf yang lapan sebagai orang-orang yang berhak menerimanya (lihat Surat at-Taubah ayat 60). Zakat merupakan suatu keterikatan seorang muslim dalam bidang sosioekonomi yang tak terhindarkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Zakat juga memiliki peranan penting dalam pengembangan ekonomi melalui sumber-sumbernya yang berbentuk sumber pembiayaan dan pengembangan, juga melalui pendistribusian yang secara langsung atau tidak langsung yang memiliki pengaruh perkembangan terhadap peningkatan taraf ekonomi masyarakat miskin (kaum dhuafa).

Islam mengajarkan umatnya untuk memperhatikan kemiskinan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Yusuf Qardhawi mencatat, bahwa Islam memandang kemiskinan merupakan sesuatu yang membahayakan dari berbagai aspek. Membahayakan akidah, akhlak, kerasionalan, keutuhan rumah tangga dan lain-lain, bahkan di dalamnya ada kejahatan yang tersembunyi.  Jika kemiskinan sudah mendominasi seseorang, sangat mungkin ia akan terjerumus pada sebuah kemiskinan yang mansiyyan (mampu membuatnya lupa akan Allah dan kemanusiaanya).  Untuk itu selayaknyalah seorang muslim harus meminta perlindungan Allah SWT dari kemiskinan atau kefakiran, kerana kefakiran (baca: kemiskinan) menjadi titik lemah bagi manusia dan kemanusiaan. Ada hubungkait antara kekafiran dan kefakiran, seseorang yang fakir miskin pada umumnya menyimpan kedengkian kepada orang yang mampu. Manakala kedengkian akan menghapuskan semua kebaikan. Lebih jauh lagi, kedengkian yang mendalam juga akan menodai agamanya dan ketidakrelaan atas apa yang mereka dapatkan. Sehingga terhadap agamanya pun, pada akhirnya mereka mendustakannya. Dalam konteks ini, fakir memiliki bahaya terpendam bagi kewujudan keislaman seseorang.

Untuk itu, Islam memiliki rancangan untuk menghapuskan masyarakat dari keterpurukan kemiskinan dan pelbagai akibat yang muncul. Maka, zakat sebagai agen perubahan dari miskin ke kaya tidak tepat jika hanya dimaknai sekedar sebuah kewajiban seorang individu memberikan kelebihannya kepada orang miskin. Akan tetapi, yang jauh lebih penting adalah berupaya untuk menjadikan orang miskin keluar dari kemiskinannya.

Dalam kontek ke-Aceh-an, upaya untuk menjadikan orang miskin keluar dari status kemustahikannya telah memasuki tahap yang sedikit menggembirakan, dimana dapat dilihat dari keseriusan pemerintah daerah dan lembaga terkait serta kesadaran masyarakat dalam berzakat,  hal ini terbukti dari hasil penerimaan zakat di Baitul Mal Aceh yang terus meningkat pada setiap tahunnya. Menurut data yang diperoleh dari Baitul Mal Aceh, tercatat sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2009 Baitul Mal Aceh telah berjaya mengumpulkan dana zakat sebesar Rp. 13,7 Milyar lebih, sedangkan yang telah didistribusikan baik dalam bentuk konsumtif maupun dalam bentuk produktif sebesar Rp. 9,6 Milyar lebih. Dengan sejumlah dana zakat itu pula, telah berhasil diberdayakan sebanyak 1094 usahawan asnaf dalam bentuk modal usaha yang bersumber dari zakat produktif dengan jumlah dana yang disalurkan sebesar Rp. 3.094.103,000,-. yang dikembangkan dalam berbagai sektor dan jenis usaha kecil/mikro.

Peran di atas merupakan salah satu implementasi zakat yang dilakukan untuk membantu masyarakat miskin (kaum dhuafa) keluar dari kemiskinannya, dengan harapan penyaluran zakat tersebut dapat memperbaiki tingkat pendapatan ekonomi keluarga mustahik. Tentunya usaha ini tidak terlepas dari sistem pengurusan dan pendayagunaan zakat oleh lembaga yang terkait baik dari bidang pemungutan maupun dalam penyalurannya yang tepat pada sasaran.

Zakat Fitrah

Selain itu, upaya untuk membantu fakir miskin juga terdapat dalam penyaluran zakat fitrah. Zakat fitrah yang disyariatkan bertujuan untuk mensucikan jiwa orang-orang yang melaksanakan puasa di bulan ramadhan dan sekaligus memberi makan kepada orang-orang miskin serta mencukupi keperluan mereka ketika hari raya. Kewajiban zakat fitrah berlaku untuk seluruh umat muslim. Di antara dalil yang menganjurkan untuk menunaikan zakat fitrah adalah firman Allah SWT yang bermakna: dalam Surat al-‘Alaa ayat 14-15:

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat”.

Surah al-‘Alaa (87): 14-15.

Sedangkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a., ia berkata:

“Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah bagi orang merdeka dan hamba sahaya, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang dewasa dari kaum muslimin. Beliau memerintahkan agar (zakat fitrah tersebut) ditunaikan sebelum orang-orang melakukan shalat ‘Id (hari raya)”.

Setiap muslim wajib membayar zakat fitrah untuk dirinya dan orang yang dalam tanggungannya sebanyak satu sha’ (±3 kg) dari bahan makanan yang berlaku umum di daerahnya atau dapat dibayar dengan uang seperti yang diterapkan Kandepag Kota Banda Aceh paling rendah sebesar Rp 16.000,- dan paling tinggi Rp 23.000,- perjiwa. Jumlah itu setara dengan beras 10 muk kaleng susu isi 397 gram atau 3,1 liter beras (Serambi Indonesia, 31/08/2010). Zakat tersebut diwajibkan kepada individu jika masih memiliki sisa makanan untuk diri dan keluarganya selama sehari semalam. Zakat tersebut lebih diutamakan dari sesuatu yang lebih bermanfaat bagi fakir miskin. Adapun waktu pengeluarannya yang paling utama adalah sebelum shalat ‘id, boleh juga sehari atau dua hari sebelumnya, dan tidak boleh mengakhirkan mengeluaran zakat fitrah setelah hari raya. Zakat fitrah itu pula tidak boleh diberikan kecuali hanya kepada fakir miskin atau wakilnya. Zakat ini wajib dibayarkan ketika terbenamnya matahari pada malam ‘id.

Di antara hikmah disyari’atkan zakat fitrah adalah bentuk pertolongan kepada umat Islam, baik kaya maupun miskin sehingga mereka dapat berkonsentrasi penuh untuk beribadah kepada Allah SWT dan bersukacita dengan segala anugerah nikmat-Nya. Hikmahnya yang paling agung adalah tanda syukur orang yang berpuasa kepada Allah atas nikmat ibadah puasa.

Dengan demikian, fungsi zakat itu selain membersihkan noda atas segala perbuatan kesia-siaan dan perkataan tercela, juga dapat mengembangkan harta yang manfaatnya bukan saja dirasakan oleh muzakki akan tetapi juga dapat dirasakan oleh mustahik sebagai kaum yang berkekurangan dalam memenuhi keperluan hidupnya.

*Penulis adalah Mahasiswa Posgraduate of Islamic Studies, Syariah & Economic, University of Malaya – Kuala Lumpur

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s