Sistem Ekonomi Islam

Oleh: Shafwan Bendadeh*

Pendahuluan

Sistem dimaksudkan sebagai suatu organisasi berbagai unsur yang saling berhubungan satu sama lain.  Unsur-unsur tersebut saling memengaruhi, dan saling bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu.  Dengan pemahaman semacam itu, maka kita dapat menyebutkan bahawa system ekonomi  merupakan organisasi yang terdiri dari bagian-bagian yang saling bekerja sama untuk mencapai tujuan ekonomi.

Lalu apa yang dimaksud dengan ekonomi Islam?  Secara sederhana kita bisa mengatakan, system ekonomi Islam adalah suatu system yang didasarkan pada ajaran dan nilai-nilai Islam.  Sumber dari keseluruhan nilai tersebut sudah tentu Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’ dan qias.  Nilai-nilai system Ekonomi Islam ini merupkan integral dari keseluruhan ajaran Islam yang komprenhensif dan telah dinyatakan Allah SWT Sebagai ajaran yang sempurna.

Karena didasarkan pada nilai-nilai Ilahiyah, system ekonomi Islam tentu saja akan berbeda dengan system ekonomi kapitalisme, dan juga berbeda dengan system ekonomi sosialis yang didasarkan pada ajaran sosialisme.  Memang, dalam beberapa hal, system ekonomi Islam merupakan kompromi antara kedua system tersebut.  System ekonomi Islam memiliki sifat-sifat baik dari kapitalisme dan sosialisme, namun terlepas dari sifat buruknya.

Prinsip Dasar

Ekonomi Islam mempunyai sifat dasar sebagai ekonomi Rabbani dan Insani.  Disebut ekonomi Rabbani karena sarat dengan arahan dan nilai-nilai Ilahiyah.  Ekonomi Islam dikatakan memiliki dasar ekonomi insani karena system ekonomi ini dilaksanakan dan ditujukkan untuk kemakmuran manusia. (Qarhdawi, peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islami).

Sedangkan Umer Chapra menyebutnya dengan ekonomi tauhid cerminan watak “Ketuhanan” ekonomi Islam bukan pada aspek pelaku ekonominya sebab pelakunya pasti manusia tetapi pada aspek aturan yang harus dipedomani oleh para pelakon ekonomi.  Ini didasarkan pada keyakinan bahawa semua faktor ekonomi termasuk diri manusia pada dasarnya adalah kepunyaan Allah, dan kepada-Nya (kepada aturan-Nya) dikembalikan segala urusan.  Melalui aktiviti ekonomi manusia dapat mengumpulkan nafkah sebanyak mungkin, tetapi tetap dalam batas koridor aturan main.

Keimanan memegang peranan penting dalam ekonomi Islam, karena secara langsung akan memengaruhi cara pandang dalam membentuk kepribadian, perilaku, gaya hidup, selera, dan preferensi manusia, sikap-sikap terhadap manusia, sumber daya dan lingkungan.  Menurut Umer Chapra (The Future of Economic) cara pandang ini akan sangat memengaruhi sifat, kuantitas dan kualitas kebutuhan materi maupun kebutuhan psikologis dan metode pemenuhannya.  Keyakinan demikian juga akan senantiasa akan meningkatkan keseimbangan antara dorongan materil dan spritual, meningkatkan solidaritas keluarga dan sosial, dan mencegah berkembangnya kondisi yang tidak memiliki standar moral.

Nilai-nilai keimanan inilah yang kemudian menjadi aturan yang mengikat.  Dengan mengacu kepada aturan Ilahiyah, setiap perbuatan manusia mempunyai nilai moral dan ibadah.  Setiap tindakan manusia dan makhluk lainnya.

Karakter ekonomi semacam ini merupakan turunan dari karakter umat Islam sebagai umat moderat (ummatan wasathan).  Pengertian “wasthan” dari sejumlah kitab tafsir, mempunyai lebih dari satu konotasi makna.  Yang pertama maknanya “tawassuth” maksudya moderat.  Kedua bermakna “tawazun” maksudnya terbaik dan alternatif.  Keseluruhan tafsir itu mengindikasikan bahwa dalam Islam dan ekonomi Islam tidak ada tempat untuk ekstremitas, kapitalis maupun sosialis.  Ekonomi Islam memberi penghargaan yang tinggi kepada orang kaya yang mendapatkan dan mengelola hartanya secara benar, tetapi juga sangat peduli untuk memberdayakan kaum miskin.  Kebijakan politik ekonomi Islam tak pernah segan untuk menindak orang kaya yang tidak menunaikan hak-hak sosial dari hartanya, dan menegur fuqara atau orang miskin yang malas dan selalu minta belas kasihan kepada orang lain.

Islam memerintahkan kepada manusia untuk bekerja sama dalam segala hal, kecuali dalam perbuatan dosa kepada Allah atau melakukan aniaya kepada sesama makhluk, sebagaimana firman Allah dalam QS.  al-Maa’idah ayat 2:

… ولا تعاونوا على الإ ثم والعدوان واتّقوا الله انّ الله شديد العقاب

Maksudnya: “… Bertolong-tolonglah kamu berbuat kebajikan dan takwa dan jangan kamu bertolong-tolongan dalam berbuat dosa dan aniaya, dan takutlah kepada Allah.  Sesungguhnya Allah sangat keras siksaan-nya.” QS. al-Maa’idah : 2.

Pelaksanaannya dapat dilakukan secara bilateral, multilateral, dari tingkat lokal hingga global, tanpa harus dihambat oleh perbezaan apapun juga.  Perwujudan pola kerja sama yang dianjurkan Islam dapat dilakukan dalam skema apa pun.  Demi tegaknya keadilan, Allah telah meletakkan “mizan”, suatu timbangan akurat yang paling objektif.  Siapapun tidak boleh melanggarnya, agar tidak terdapat seorang pun jadi korban ketidakadilan.

Demikianlah sesungguhnya prinsip dasar system ekonomi Islam.  Suatu system yang bersifat Ilahiyah-insaniah, bersifat terbuka tapi sekaligus selektif.  System ekonomi Islam juga mengenal toleransi tetapi ekonomi islam tidak mengenal kompromi dalam menegakkan keadilan.

Pengertian Ekonomi Islam

Ekonomi Islam merupakan ilmu yang mempelajari perilaku ekonomi manusia yang perilakunya diatur berdasarkan aturan ugama Islam dan didasari dengan tauhid sebagaimana dirangkum dalam rukun iman dan rukun Islam.

Dalam membahas perspektif ekonomi Islam, ada satu titik awal yang benar-benar harus kita perhatikan iaitu: “ekonomi dalam Islam itu sesungguhnya bermuara kepada akidah Islam, yang bersumber dari syariatnya.  Disisi yang lain ekonomi Islam bermuara pada al-Qur’an da as-Sunnah.

Oleh karena itu, berbagai terminologi dan substansi ekonomi yang sudah ada, haruslah dibentuk dan disesuaikan terlebih dahulu dalam kerangka Islami.  Atau dengan kata lain, harus digunakan kata dan kalimat dalam bingkai lughawi, supaya kita dapat menyadari betapa pentingya titik permasalahan ini.  Dengan demikian kita dapat dengan jelas memberikan pengertian yang benar tentang istilah kebutuhan, keinginan, dan kelangkaan (al nudrat) dalam upaya memecahkan problematika ekonomi manusia.

Ilmu ekonomi Islam merupakan ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang diilhami oleh nilai-nilai Islam.  Sejauh mengenai masalah pokok kekurangan, hampir tidak terdapat perbezaan apa pun antara ilmu ekonomi Islam dan ilmu ekonomi modern.  Andaipun ada perbezaan itu terletak pada sifat dan volumenya (Mannan; 1993).  Itulah sebabnya mengapa perbezaan pokok antara kedua system ilmu ekonomi dapat dikemukakan dengan memerhatikan penanganan masalah pilihan.

Dalam ilmu ekonomi modern masalah pilihan ini sangat tergantung pada macam-macam tingkah masing-masing individu.  Mereka mungkin tidak memperhitungkan persyaratan-persyaratan masyarakat.  Namun dalam ekonomi Islam, kita tidaklah berada dalam kedudukan untuk mendistribusikan sumber-sumber semau kita.  Dalam hal ini ada pembatasan yang serius berdasarkan ketetapan Kitab Suci Al-Qur’an dan Sunnah atas tenaga individu.  Dalam Islam, kesejahteraan sosial dapat dimaksimalkan jika sumber daya ekonomi juga dialokasikan sedemikian rupa, sehingga dengan pengaturan kembali keadaannya, tidak seorarang pun menjadi lebih baik dengan menjadikan orang lain lebih buruk didalam kerangka al-Qur’an atau Sunnah.

Sebelum kita mengkaji lebih jauh tentang hakikat ekonomi Islam maka ada baiknya diberikan beberapa pengertian tentang ekonomi Islam yang dikemukakan oleh para ahli ekonomi Islam;

M. Akram Kan

Islamic economics aims the study of the human falah (well-being)achieved by organizing the resources of the earth on the basic of cooperation and participation. Secara lepas dapat kita artikan bahwa ilmu ekonomi Islam bertujuan untuk melakukan kajian tentang kebahagiaan hidup manusia yang dicapai dengan mengorganisasikan sumber daya alam atas dasar bekerja sama dan partisipasi.  Definisi yang dikemukakan akram Kan memberikan dimensi normatif (kebahagian hidup dunia dan akhirat) serta dimensi positif (mengorganisir sumber daya alam)

Muhammad Abdul Manan

Islamic economics is a social science which studies the economic problems problems of a people imbued with the values of Islam. Jadi, menurut Manan ilmu ekonomi Islam adalah ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi masyarakat yang diilhami oleh nilai-nilai Islam.

M. Umer Chapra

Islamic economics was defined as that branch of knowledge which helps realize human well-being through an allocation and distribution of scarce resources is in confirmity with Islamic teaching without unduly curbing individual freedom or creating continued macroeconomic and ecological imbalaces. Menurut Chapra ekonomi Islam adalah sebuah pengetahuan yang membantu upaya realisasi kebahagian manusia melalui alokasi dan distribusi sumber daya yang terbatas yang berada dalam koridor yang mengacu pada pengajaran Islam tanpa memberikan kebebasan individu atau tanpa perilaku makro ekonomi yang berkesinambungan dan tanpa ketidakseimbangan lingkungan.

Muhammad Najatullah Ash-Sidiqy

Islamic economic is the muslim thinker’s response to the economic challenges of their time.  In this endeavour they were aided by reason and experience. Menurut Ash-Shiddiqy ilmu ekonomi Islam adalah respon pemikir muslim terhadap tantangan ekonomi pada masa tertentu.  Dalam usaha keras ini mereka dibantu oleh al-Qur’an dan sunnah, akal (ijtihad) dan pengalaman.

Kursyid Ahmed

Islamic economic is a systematic effort to thy to understand the economic’s problem and man’s behaviour in relation to that problem from an islamic perspective. Menurut Ahmad ilmu ekonomi Islam adalah sebuah usaha sistematis untuk memahami masalah-masalah ekonomi dan tingkah laku manusia secara relasional dalam perspektif Islam.

Dari definisi-definisi yang dikemukakan di atas, kita dapat munculkan suatu pertanyaan apakah ilmu ekonomi Islam bersifat positif atau normatif?  Menurut Chapra, ekonomi Islam jangan terjebak oleh dikotomi pendekatan positif dan normatif.  Karena sesungguhnya pendekatan itu saling melengkapi dan bukan saling menafikan.  Sedangkan Manan mengatakan bahwa ekonomi Islam adalah ilmu ekonomi positif dan normatif.  Jika ada kecenderungan beberapa ekonom yang sangat mementingkan positivme dan sama sekali tidak mengajukan pendekatan normatif atau sebaliknya, tentu sangat disayangkan.

Tujuan Ekonomi Islam

Segala aturan yang diturunkan Allah swt dalam system Islam mengarah pada tercapainya kebaikan, kesejahteraan, keutamaan, serta menghapuskan kejahatan, kesengsaraan, dan kerugian pada seluruh ciptaan-Nya. Demikian pula dalam hal ekonomi, tujuannya adalah membantu manusia mencapai kemenangan di dunia dan di akhirat.

Ada tiga sasaran hukum Islam yang menunjukan bahwa Islam diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia, iaitu:

  1. Penyucian jiwa agar setiap muslim bisa menjadi sumber kebaikan bagi masyarakat dan lingkungannya.
  2. Tegaknya keadilan dalam masyarakat. Keadilan yang dimaksud mencakup aspek kehidupan di bidang hukum dan muamalah.
  3. Tercapainya maslahah (merupakan puncaknya). Para ulama menyepakati bahwa maslahah yang menjad puncak sasaran di atas mencakup lima jaminan dasar:
    1. keselamatan keyakinan agama ( al din)
    2. kesalamatan jiwa (al nafs)
    3. keselamatan akal (al aql)
    4. keselamatan keluarga dan keturunan (al nasl)
    5. keselamatan harta benda (al mal)

Prinsip-prinsip Ekonomi Islam

Secara garis besar ekonomi Islam memiliki beberapa prinsip dasar:

  1. Berbagai sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan dari Allah SWT kepada manusia.
  2. Islam mengakui pemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu.
  3. Kekuatan penggerak utama ekonomi Islam adalah kerja sama.
  4. Ekonomi Islam menolak terjadinya akumulasi kekayaan yang dikuasai oleh segelintir orang saja.
  5. Ekonomi Islam menjamin pemilikan masyarakat dan penggunaannya direncanakan untuk kepentingan banyak orang.
  6. Seorang muslim harus takut kepada Allah SWT dan hari penentuan di akhirat nanti.
  7. Zakat harus dibayarkan atas kekayaan yang telah memenuhi batas (nisab) Islam melarang riba dalam segala bentuk.

Metodologi Ekonomi Islam

Setiap system ekonomi pasti didasarkan atas ideologi yang memberikan landasan dan tujuannya.  Setiap system ekonomi membuat kerangka dimana suatu komunitas sosioekonomi membuat kerangka dapat memanfaatkan sumber-sumber alam dan manusiawi untuk kepentingan produksi dan mendistribusikan hasil-hasil produksi ini untuk kepentingan konsumsi.

Sebagai konsekwensinya suatu system untuk mendukung ekonomi Islam seharusnya diformulasikan berdasarkan pandangan Islam tentang kehidupan.  Berbagai aksioma dan prinsip dalam system seperti itu seharusnya ditentukan secara pasti dan proses fungsionalisasinya seharunya dijelaskan, agar dapat menunjukkan kemurniannya.  Namun demikian, perbezaan yang nyata, seharusnya ditarik antara system ekonomi Islam dan setiap tatanan yang bersumber padanya.  Dalam literatur Islam mengenai ekonomi, sedikit perhatian sudah diberikan kepada masalah ini.

Suatu pembedaan harus ditarik antara bagian dari hukum (Fiqh) Islam yang membahas hukum dagang (Fiqhul-mu’amalat) dan ekonomi Islam.  Bagian yang disebut pertama menetapkan kerangka di bidang hukum untuk kepentingan bagian yang disebut belakangan, sedangkan yang disebut belakangan mengkaji proses dan penanggulangan kegiatan manusia yang berkaitan dengan produksi, distribusi dan konsumsi dalam masyarakat muslim ekonomi Islam dibatasi oleh Hukum Dagang Islam, tetapi ini bukan satu-satunya pembatasan mengenai kajian ekonomi itu.  System sosial Islam dan aturan-aturan keagamaan mempunyai banyak pengaruh, atau bahkan lebih banyak, terhadap cakupan ekonomi dibandingkan dengan sistem hukumnya.

Hal lain yang tidak menguntungkan dalam membahas ekonomi Islam dalam peristilahan Fiqhul-Mu’amalat adalah bahwa rancangan seperti itu, pada dasarnya, terpecah-pecah dan kehilangan keterkaitan menyeluruhnya dengan teori ekonomi.  Barangkali hal inilah yang menjadi sebab tidak adanya teori moneter makroekonomi dalam semua literatur mengenai ekonomi Islam.

Kajian tentang sejarah sangat penting bagi ekonomi karena sejarah adalah laboratarium umat manusia.  Ekonomi, sebagai salah satu ilmu sosial, perlu kembali kepada sejarah agar dapat melaksanakan eksperimen-eksperimennya dan menurunkan kecenderungan- kecenderungan jangka jauh dalam berbagai variabel ekonominya.  Sejarah memberikan dua aspek utama kepada ekonomi, iaitu sejarah pemikiran dan sejarah unit-unit ekonomi seperti individu-individu, badan-badan usaha, dan ilmu ekonomi (itu sendiri).

Baru sedikit usaha yang dilakukan untuk menampilkan sejarah pemikiran ekonomi Islam.  Sangat disayangkan, karena sepanjang sejarah Islam para pemikir dan pemimpin politik muslim sudah mengembangkan gagasan-gagasan ekonomi mereka sedemikian rupa sehingga mengharuskan kita untuk menganggap mereka sebagai para pencetus ekonomi Islam yang sebenarnya.  Penelitian diperlukan untuk menampilkan pemikiran ekonomi dari para pemikir besar Islam seperti Abu Yusuf (meninggal th. 182 H), Yahya bin Adam (meninggal th. 303 H), al-Gazali (meninggal th. 505 H), Ibnu Rusyd (meninggal th. 595 H), Al-‘Izz bin ‘Abd al-Salam (meninggal th. 660 H), Al-Farabi (meninggal th. 339 H), Ibnu Taimiyyah (meninggal th. 728 H), Al-Maqrizi (meninngal th. 845 H), Ibnu Khaldun (meninggal th. 808 H), dan banyak lainnya lagi.

Kajian tentang sejarah pemikiran ekonomi dalam Islam seperti itu akan membantu menemukan sumber-sumber pemikiran ekonomi Islam kontemporari, di satu pihak dan di pihak lain, akan memberi kemungkinan kepada kita untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai perjalanan pemikiran ekonomi Islam selama ini.  Kedua-duanya akan memperkaya ekonomi Islam kontemporari dan membuka jangkauan lebih luas bagi konseptualisasi dan aplikasinya.

Kajian terhadap perkembangan historis ekonomi Islam itu merupakan ujian-ujian emperis yang diperlukan bagi setiap gagasan ekonomi.  Ini memiliki arti sangat penting, terutama dalam bidang kebijakan ekonomi dan keuangan negara.  Namun peringatan terhadap adanya dua bahaya perlu dikemukakan bila aspek historis Islam itu diteliti.  Pertama, kejumbuhan antara tiori dengan aplikasi-aplikasinya, dan kedua, pembatasan tiori dengan sejarahnya.  Bahaya pertama muncul ketika para pemikir ekonomi muslim modern tidak membedakan secara jelas antara konsepsi Islam dan aplikasi-aplikasi historisnya.

Hal ini tampak sangat jelas dalam cakupan keuangan negara, karena hampir semua buku mengenai keuangan negara yang ada dalam perpustakaan Islam kontemporari menganggap sumber-sumber negara sebagai sumber-sumber yang ada pada masa negara Islam besar, sejak masa Umar bin khattab sampai masa Harun al-Rasyid.  Sedikit sekali perhatian diberikan kepada pengembangan tiori tentang keuangan negara yang didasarkan atas al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW.  Hal ini tercermin dalam penampilan historis keuangan negara dalam Islam yang sedikit sekali memberikan kesempatan untuk menguji aplikabilitasnya pada saat sekarang karena adanya perubahan suasana disemua negara Islam.

Bahaya kedua muncul ketika para ahli ekonomi Islam menganggap pengalaman historis itu mengikat bagi kurun waktu sekarang.  Hal ini tercermin dalam ketidakmampuan untuk mengancang al-Qur’an dan sunnah itu secara langsung, yang pada gilirannya menimbulkan tiori ekonomi Islam yang hanya bersifat historis dan tidak bersifat ideologis.

Disarikan dari sumber;

  1. Pengenalan Ekslusif Ekonomi Islam, Mustafa Edwin Nasution dkk, Penerbit; Kencana Prenada Media Group Rawamangun-Jakarta 13220
  2. Buku Saku Lembaga Bisnis Syariah yang diterbitkan oleh Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah
  3. http://islampeace.clubdiscussion.net/ekonomi-islam-f8/pengertian-tujuan-prinsip-prinsip-ekonomi-islam-t13.htm

* Penulis adalah Mahasiswa Program Master pada Akademi Pengajian Islam Syariah dan Ekonomi,  Universiti Malaya- Kuala Lumpur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s